Minhajul Abidin, Tentang
Tujuh Tahapan Menuju Tuhan
Bagaimana jalan seorang hamba menuju Tuhan? Inilah yang hendak dijawab oleh
Imam Ghazali dalam karyanya, Minhajul Abidiin atau kurang lebih berarti
jalan bagi para hamba. Menurut beliau, jalan yang mesti ditempuh oleh seorang
mukmin, agar dapat sampai, wushul, kepada Allah mesti melewati tujuh
tahapan. Mulai dari tahapan pertama yakni ilmu, sampai tahapan ke tujuh yakni hamd
(puji) dan syukr (syukur).
Ilmu menjadi tahapan pertama karena ia adalah dasarnya amal. Seperti yang
ditulis Imam Ghazali, ilmu dan amal bak pohon dan buahnya. Nabi shallaLlahu
‘alaihi wasallam bersabda, “Ilmu adalah imamnya amal, amal adalah pengikut
ilmu.” Mencari ilmu, karenanya lebih didahulukan daripada ibadah, sebab dengan
ilmu diketahui bagus tidak, benar tidaknya ibadah.
Imam Ghazali cukup cukup panjang menjelaskan perihal ilmu ini. Apa yang
dimaksud dengan ilmu? Sederhananya, ilmu berarti mengerti tentang syariat dan
ilmu tentang hati (sirr ). Lebih detail lagi, menurut beliau, ilmu yang
wajib dipelajari oleh seorang muslim ada tiga : ilmu tauhid, ilmu sirr, dan
ilmu syariah. Yang fardlu ain dari ketiganya adalah yang berkaitan langsung
dengan kehidupan seseorang. Dalam konteks syariah misalnya ya ilmu soal
bersuci, shalat dan puasa. Haji dan zakat misalnya, jikalau belum sampai
saatnya belum wajib ‘ain hukumnya. Adapun cabang-cabang ilmu tersebut, sifatnya
fardlu kifayah. Tidak wajib bagi tiap individu, bila ada ada orang yang telah
mengerjakannya maka gugurlah kewajiban yang lain.
Tahapan kedua, taubat. Dalam tahapan kedua ini, Imam Ghazali menekankan
seyogyanya seseorang bertaubat bukan karena keadaan, misalnya dia terhimpit
kemiskinan atau kesusahan, namun karena mengagungkan Allah. Kalau gara-gara
kepepet, itu bukan taubat yang hakiki, menurut beliau.
Asyiknya kitab karangan Imam Ghazali ini, menggunakan model tulisan
dialektis, model tanya jawab. Setelah penjelasan yang lumayan panjang dan
detail, beliau menuliskan pertanyaan yang mungkin muncul dalam tema tersebut,
kemudian memberikan jawaban. Misalnya dalam
bab taubat, beliau menuliskan pertanyaan. Bagaimana aku bisa taubat, lha wong kalau
nanti taubat juga akan balik lagi maksiat? Jawaban beliau: Darimana kau tau
kalau memang begitu akhirnya? Siapa tahu nanti kau mati saat bertaubat, sebelum
kau balik lagi berdosa. Nah, dalam penulisan kitab ini, beliau berlaku seperti
seorang guru yang sedang berbincang dengan muridnya. Dus, model khitob engkau
yang jadi pilihan dalam karya ini.
Kembali soal bab taubat tadi, menurut beliau, ada tiga jenis dosa. Pertama dosa karena meninggalkan kewajiban
dari Tuhan. Kedua, dosa antara manusia dan Allah, seperti minum khamr, judi,
riba, dsb. Ketiga, dosa antara manusia dan manusia.Dalam dosa antar manusia,
jikalau memungkinkan, minta maaf dan minta dihalalkan. Jikalau tidak, balikkan
semua ke Allah, dengan tulus dan benar.
Tahapan ketiga, ‘awaiq, yakni pencegah, penghalang, perintang dalam
ibadah. Salahsatunya adalah kekalutan soal rejeki. Rejeki adalah tanggungan
dari Gusti Allah, namun banyak orang yang tidak percaya beginilah adanya. Dan inilah
yang seringkali menyibukkan orang dari beribadah, orang jadi lalai beribadah. Mengejar
apa yang sudah ditetapkan, sembari tidak menjalankan apa yang diperintahkan.
Imam Ghazali memberikan perumpamaan perihal tanggungan soal rezeki.
Bayangkan ada seseorang yang sangat kaya, sangat welas asih, sangat adil yang
siap menanggung kita. Kita tinggal lakukan saja apa perintahnya, jauhi
larangannya. Apa kita tidak akan percaya? Apa kita tidak akan merasa aman? Begitulah,
padahal Gusti Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya, Yang Maha Welas Asih, yang Maha
Bijaksana. Tentunya, dengan logika ini orang harusnya lebih percaya kepada
Tuhan.
Nabi shallaLlahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Sedikitkanlah bersusah-susah.
Apa yang ditakdirkan pasti akan terjadi, apa yang tidak direjekikan buatmu ya
tak akan datang.” Sayyidina Ali karromaLlahu wajhahu pun berkata,menguatkan
pernyataan RasuluLlah tersebut. “ Jikalau engkau bersabar, takdir berjalan
sebagaimana biasa dan engkau mendapatkan pahala. Jikalau engkau mengeluh,
takdir juga berjalan sebagaimana biasa, dan engkau mendapatkan dosa.”
RasuluLlah juga bersabda, “Sungguh Allah sangat sayang kepada hambaNya yang
mukmin, melebihi sayangnya seorang ibu yang sangat penyayang kepada anaknya.” Dus,
rasa sayang ini harusnya memberikankita rasa aman, rasa penuh harapan kepada
Tuhan. Namun, itu pun mesti diikuti dengan rasa takut. Karena harapan yang
kebablasan, akan membuat orang hilang kewaspadaan. Seorang cerdik pandai
berkata, “Kesusahan membuat orang tak mau makan, ketakutan membuat orang tidak
mau berbuat dosa, harapan membuat orang kuat menjalankan taat, dan ingat mati
membuat orang tidak peduli dengan hal-hal berlebihan.”
Begitulah. Kitab ringkas namun padat karya sang Hujjatul Islam ini penuh
pelajaran memang, bagi orang yang hendak belajar. Mutiara Al Qur’an, Hadits,
atsar dan ucapan-ucapan serta syair para cerdikpandai menghiasi
lembaran-lembaran kitab ini. Tulisan ini sengaja hanya mencantumkan beberapa
tahapan yang hendaknya dilalui oleh seorang abdi, tidak semuanya. Karena keterbatasan penulis dalam ingatan dan pemahaman saat ini serta agar
pembaca membacanya sendiri.
waLlahu a’lam
Krapyak, dini hari
22 Maret 2014
