Saturday, March 22, 2014

Minhajul Abidin

Minhajul Abidin, Tentang Tujuh Tahapan Menuju Tuhan

Bagaimana jalan seorang hamba menuju Tuhan? Inilah yang hendak dijawab oleh Imam Ghazali dalam karyanya, Minhajul Abidiin atau kurang lebih berarti jalan bagi para hamba. Menurut beliau, jalan yang mesti ditempuh oleh seorang mukmin, agar dapat sampai, wushul, kepada Allah mesti melewati tujuh tahapan. Mulai dari tahapan pertama yakni ilmu, sampai tahapan ke tujuh yakni hamd (puji) dan syukr (syukur).


Ilmu menjadi tahapan pertama karena ia adalah dasarnya amal. Seperti yang ditulis Imam Ghazali, ilmu dan amal bak pohon dan buahnya. Nabi shallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ilmu adalah imamnya amal, amal adalah pengikut ilmu.” Mencari ilmu, karenanya lebih didahulukan daripada ibadah, sebab dengan ilmu diketahui bagus tidak, benar tidaknya ibadah.

Imam Ghazali cukup cukup panjang menjelaskan perihal ilmu ini. Apa yang dimaksud dengan ilmu? Sederhananya, ilmu berarti mengerti tentang syariat dan ilmu tentang hati (sirr ). Lebih detail lagi, menurut beliau, ilmu yang wajib dipelajari oleh seorang muslim ada tiga : ilmu tauhid, ilmu sirr, dan ilmu syariah. Yang fardlu ain dari ketiganya adalah yang berkaitan langsung dengan kehidupan seseorang. Dalam konteks syariah misalnya ya ilmu soal bersuci, shalat dan puasa. Haji dan zakat misalnya, jikalau belum sampai saatnya belum wajib ‘ain hukumnya. Adapun cabang-cabang ilmu tersebut, sifatnya fardlu kifayah. Tidak wajib bagi tiap individu, bila ada ada orang yang telah mengerjakannya maka gugurlah kewajiban yang lain.

Tahapan kedua, taubat. Dalam tahapan kedua ini, Imam Ghazali menekankan seyogyanya seseorang bertaubat bukan karena keadaan, misalnya dia terhimpit kemiskinan atau kesusahan, namun karena mengagungkan Allah. Kalau gara-gara kepepet, itu bukan taubat yang hakiki, menurut beliau.

Asyiknya kitab karangan Imam Ghazali ini, menggunakan model tulisan dialektis, model tanya jawab. Setelah penjelasan yang lumayan panjang dan detail, beliau menuliskan pertanyaan yang mungkin muncul dalam tema tersebut, kemudian memberikan jawaban.  Misalnya dalam bab taubat, beliau menuliskan pertanyaan.  Bagaimana aku bisa taubat, lha wong kalau nanti taubat juga akan balik lagi maksiat? Jawaban beliau: Darimana kau tau kalau memang begitu akhirnya? Siapa tahu nanti kau mati saat bertaubat, sebelum kau balik lagi berdosa. Nah, dalam penulisan kitab ini, beliau berlaku seperti seorang guru yang sedang berbincang dengan muridnya. Dus, model khitob engkau yang jadi pilihan dalam karya ini.  

Kembali soal bab taubat tadi, menurut beliau, ada tiga jenis dosa.  Pertama dosa karena meninggalkan kewajiban dari Tuhan. Kedua, dosa antara manusia dan Allah, seperti minum khamr, judi, riba, dsb. Ketiga, dosa antara manusia dan manusia.Dalam dosa antar manusia, jikalau memungkinkan, minta maaf dan minta dihalalkan. Jikalau tidak, balikkan semua ke Allah, dengan tulus dan benar.

Tahapan ketiga, ‘awaiq, yakni pencegah, penghalang, perintang dalam ibadah. Salahsatunya adalah kekalutan soal rejeki. Rejeki adalah tanggungan dari Gusti Allah, namun banyak orang yang tidak percaya beginilah adanya. Dan inilah yang seringkali menyibukkan orang dari beribadah, orang jadi lalai beribadah. Mengejar apa yang sudah ditetapkan, sembari tidak menjalankan apa yang diperintahkan.

Imam Ghazali memberikan perumpamaan perihal tanggungan soal rezeki. Bayangkan ada seseorang yang sangat kaya, sangat welas asih, sangat adil yang siap menanggung kita. Kita tinggal lakukan saja apa perintahnya, jauhi larangannya. Apa kita tidak akan percaya? Apa kita tidak akan merasa aman? Begitulah, padahal Gusti Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya, Yang Maha Welas Asih, yang Maha Bijaksana. Tentunya, dengan logika ini orang harusnya lebih percaya kepada Tuhan.  

Nabi shallaLlahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Sedikitkanlah bersusah-susah. Apa yang ditakdirkan pasti akan terjadi, apa yang tidak direjekikan buatmu ya tak akan datang.” Sayyidina Ali karromaLlahu wajhahu pun berkata,menguatkan pernyataan RasuluLlah tersebut. “ Jikalau engkau bersabar, takdir berjalan sebagaimana biasa dan engkau mendapatkan pahala. Jikalau engkau mengeluh, takdir juga berjalan sebagaimana biasa, dan engkau mendapatkan dosa.”

RasuluLlah juga bersabda, “Sungguh Allah sangat sayang kepada hambaNya yang mukmin, melebihi sayangnya seorang ibu yang sangat penyayang kepada anaknya.” Dus, rasa sayang ini harusnya memberikankita rasa aman, rasa penuh harapan kepada Tuhan. Namun, itu pun mesti diikuti dengan rasa takut. Karena harapan yang kebablasan, akan membuat orang hilang kewaspadaan. Seorang cerdik pandai berkata, “Kesusahan membuat orang tak mau makan, ketakutan membuat orang tidak mau berbuat dosa, harapan membuat orang kuat menjalankan taat, dan ingat mati membuat orang tidak peduli dengan hal-hal berlebihan.”

Begitulah. Kitab ringkas namun padat karya sang Hujjatul Islam ini penuh pelajaran memang, bagi orang yang hendak belajar. Mutiara Al Qur’an, Hadits, atsar dan ucapan-ucapan serta syair para cerdikpandai menghiasi lembaran-lembaran kitab ini. Tulisan ini sengaja hanya mencantumkan beberapa tahapan yang hendaknya dilalui oleh seorang abdi, tidak semuanya. Karena keterbatasan penulis dalam ingatan dan pemahaman saat ini serta agar pembaca membacanya sendiri.

waLlahu a’lam



Krapyak, dini hari
22 Maret 2014