Friday, October 14, 2011

Asing


Kau dilahirkan sendiri
Lalu dirangkul tangan-tangan asing
Larilah menjangkau wajah-wajah asing
Terasing di dunia
Sampai wajah kematian tersenyum
Sendiri
Sendiri

Wednesday, October 12, 2011


Melepas Ketergantungan Desa
Judul                     : Melawan Ketergantungan : Kebijakan Pangan dan Pengalaman Pengorganisasian Tiga Desa
Penulis                 : Nurhady Sirimorok
Tebal                     : vii + 213 Halaman
Penerbit              : Insist Press

Desa harus jadi kekuatan ekonomi
Agar rakyatnya tak hijrah ke kota
(Desa, Iwan Fals)
Bagi masyarakat modern, desa tidak memiliki makna selain nostalgia dan tempat wisata. Ironisnya, masyarakat desa pun banyak yang meninggalkan desa mereka demi ‘masa depan yang lebih baik’. Begitu banyak angkatan muda desa yang melakukan urbanisasi karena tidak menemukan lapangan kerja di tempat asalnya.
Mulanya adalah Revolusi Hijau. Revolusi Hijau adalah sebuah kebijakan yang amat populer di era 70 sampai 80 an. Penggunaan bibit hibrida, pemanfaatan pestisida, pemakaian pupuk kimia adalah beberapa program intinya. Tujuannya untuk menggenjot produksi pangan dalam waktu singkat.
Indonesia mengadopsi kebijakan ini pada era Soeharto. Kita masih ingat Indonesia pernah mendapatkan predikat sebagai negara dengan swasembada pangan pada 1986. Ini adalah ‘jasa’ dari Revolusi Hijau. Namun imbas dari kebijakan ini  petani menjadi semakin tergantung pada pemerintah dan perusahaan agribisnis. Petani harus membeli semua kebutuhan produksi mulai dari bibit, pupuk sampai obat pembasmi hama dari pemerintah dan pabrik.
Petani kecil dan petani penggarap tentu mati kutu. Bayangkan saja, pendapatan bulanan mereka hanya berkisar antara 150 ribu sampai 300 ribu per bulan. Artinya, jatah belanja harian mereka hanya sekitar Rp. 3000 (hlm.192). Mana sanggup mereka membeli sumber daya produksi untuk pertanian mereka?
Akar masalahnya adalah paradigma pemerintah tentang kesejahteraan. Bagi para birokrat kita, kesejahteraan rakyat hanya diukur dengan agregat pendapatan nasional. Pada konteks pertanian, jika produksi beras sudah mencapai target pemerintah maka petani sudah dianggap sejahtera. Dijalankanlah resep Revolusi Hijau. Petani ‘dianjurkan’ menanam bibit hibrida, agar cepat panen. Agar tanaman lebih sehat, pupuk kimia dan pestisida wajib digunakan. Imbasnya, keuntungan petani semakin berkurang. Uang mereka habis di level produksi. Selain itu harga gabah pun sering anjlok di pasaran.
Ikhtiar Pemberdayaan
Melawan Ketergantungan , sebagaimana judul buku ini, adalah pesan utama dari buku ini. Dengan mengemukakan pengalaman Sekolah Rakyat Petani (SRP) Payo-Payo, para penulis ingin menunjukkan mandulnya kebijakan pemerintah di level petani.
SRP Payo-Payo mengadakan pendampingan di tiga desa yakni Tampobulu, Soga dan Bone. Konsep pemberdayaan diusung adalah pembentukan Tim Desa. Tim ini didasarkan pada kerangka pemikiran bahwa masyarakat desa lah yang harus aktif dalam memajukan desa mereka, bukan orang luar. Tim Desa ini diharapkan dapat menjadi wadah berkumpul masyarakat untuk berdiskusi, menyusun rencana dan berefleksi bersama.
Pada prakteknya, para fasilitator menemukan berbagai kesulitan mulai dari saat riset desa sampai pelaksanaan program. Umumnya fasilitator kurang memiliki kemampuan teknis bertani sehingga masyarakat sulit mempercayai ‘fatwa’ mereka. Kemudian karena fasilitator berasal dari daerah lain, mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk berbaur.
Kasus yang cukup menarik dialami oleh Atikah, fasilitator di Desa Bonne Bonne. Karena ia perempuan, petani yang sebagian besar laki-laki kurang bisa menaruh kepercayaan kepadanya. Ketika ia memberikan penyuluhan dan sosialisasi mengenai berbagai cara tani yang lebih efektif, ia diacuhkan begitu saja. Ia kemudian memanfaat Posyandu. Sambil melayani ibu-ibu yang datang ke Posyandu, ia memberikan informasi mengenai pertanian.
Ketiga desa tersebut memiliki masalah yang sama, yaitu pangan dan energi. Dari riset kecil-kecilan yang dilakukan di Tampobulu, pengeluaran per tahun di tiap desa hampir mencapai 3 miliar (hlm.59). Sebagian besar penduduk mengkonsumsi barang-barang yang tidak bisa diperoleh di desa sendiri.  Sementara itu, masyarakat juga masih bergantung pada minyak tanah untuk memasak. Para fasilitator memperkenalkan teknologi sederhana seperti biogas dan minyak jarak untuk mengurangi konsumsi minyak tanah. Sedangkan untuk mengatasi masalah konsumsi kebutuhan harian, warga dianjurkan untuk menanam sayuran di pekarangan rumahnya. Sekarang Desa Tampobulu, Bonne-Bonne dan Soga telah berhasil berdaulat dalam pangan.
Buku ini wajib dibaca oleh para aktifis LSM, akademisi pada umumnya, dan juga mahasiswa yang hendak atau sedang melakukan KKN. Buku ini bisa menjadi bacaan wajib untuk mereka sebagai bahan refleksi tentang nasib petani kecil di negeri kita.

B21, 12 Oktober 2011

Tuesday, October 11, 2011

Ocehan tak Ilmiah

Ocehan tak Ilmiah

Mengapa kita harus bisa juga menulis ilmiah? Atau lebih dalam lagi, mengapa harus berpikir ilmiah, dengan kaidah-kaidah yang berat, dengan berbagai macam bacaan berat. Mengapa tidak cukup dengan tulisan fiksi, tulisan curhat, atau tulisan-tulisan lain yang tak berat. Yang bisa digarap tanpa mengerutkan kening, yang bisa ditulis tanpa perlu ditata metodologi dan istilah-istilah teknis sialan itu. 

Bukannya tulisan yang bukan ilmiah itu justru akan lebih mudah terbaca, akan lebih gampang dipahami oleh masyarakat ketimbang tulisan ilmiah itu? Paling-paling tulisan ilmiah itu hanya akan dipahami oleh sesama kalangan, tak sampai menjangkau kaum ‘awam’. Bukannya itu akan jadi sebuah elitisme, menjadi golongan ekslusif dengan menerbitkan tulisan yang eksklusif.

Lalu apa, mengapa orang-orang berbondong-bondong masuk kuliah, menulis ilmiah, dan ilmu-ilmu diciptakan? Kata Jojo, kenapa terlalu serius? Akhirnya juga kita mesti menghadapi sebagian besar masyarakat yang bicara dalam bahasa yang populer. Nabi pun tak pernah menulis tulisan ilmiah kan? Bimbingan beliau malah lahir dari hadits-hadits yang seringkali amat sederhana kalimatnya. Mudah dipahami. Lalu kenapa coba? 

Tapi metode ilmiah ini telah diamini oleh ratusan, atau entah, ribuan orang. Para ilmuwan. Mereka yang berilmu. Metode ketat, tulisan terstruktur, dan lain sebagainya. 

Entahlah, Rendra yang kukenal sebagai seniman, seorang pujangga pun begitu menghormati metode ini. Pembaca dapat melihat wawancara ImpacTV dengan Rendra di youtube.com.

Rendra menekankan pentingnya kita tahu fakta objektif, mengumpulkannya, lalu mengkategorisasikannya, kemudian melakukan kritik. Rangkaian itu adalah metode ilmiah.
Suka atau tak suka, sepertinya metode ilmiah –begitu juga tulisan ilmiah—adalah ikhtiar untuk membuat pikiran kita tertata, menjauhi kesalahan dalam pemikiran. Kesalahan yang nantinya membikin salah tindakan. 

Ocehan di awal mungkin benar dalam satu hal, kita butuh tulisan-tulisan yang gampang dipahami. Tapi kita juga butuh tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar. Tulisan yang tidak asal-asalan, pemikiran bukan murahan. 

Merangkul keduanya adalah semestinya. Audiens tidak hanya masyarakat awam, tapi juga mereka yang ‘berpendidikan’. Salah jika mengabaikan bagian audiens yang satu ini.



Monday, October 10, 2011

Betah betahan yuk!

Betah Tak Betah, Harus Betah

Pembaca, mengapa kita tak betah tinggal di suatu tempat?
Mungkin tempatnya tak nyaman. Ramai, terlalu sepi, atau apa lah. Tapi sepertinya kenyamanan itu begitu relatif. Sangat mudah berubah, sangat gampang berganti tolok ukurnya. Kadang saya suka tempat yang sepi, ingin ngekos. Setelah ngekos malah merasa kesepian, ingin tempat yang ada orangnya. Setelah ngontrak lagi, jadi pengen sepi lagi. Tak bisa konsentrasi, dalihku. 

Lalu apa itu rasa nyaman?

Jika rasa nyaman itu begitu relatif, tergantung suasana hati, tempat kita berada atau dengan siapa kita berada; pertanyannya apa kenyamanan memang pantas dikejar? Ya, sangat manusiawi menginginkan rasa nyaman. Tapi seberapa jauh ‘kemanusiawian’ itu mesti dituruti?

Kita tahu kalimat yang sering diungkapkan orang ‘sukses’.(Saya tidak tahu apa ukuran sukses, sebab bagi saya, orang yang sudah berjuang semampunya). Keluarlah dari zona nyaman. Dari situ paling tidak, mereka ingin bilang, kalau zona nyaman itu patut diwaspadai. Jika kita sudah merasa nyaman berada di sebuah posisi, dalam label tertentu yang dicapkan orang lain, atau berada di tempat tertentu; bisa jadi kita malah tidak perasa. Tidak sensitif. Jangan-jangan kita telah ketinggalan banyak hal. Jangan-jangan kenyamanan yang kita punya membuat kita lupa melakukan hal penting. Jangan-jangan tempat nyaman itu malah membuat kita lupa untuk berjuang. Dan seterusnya.

Jika rasa nyaman itu relatif, kenapa tidak menciptakannya? Sekarang, di sini. Kalau tempat kita berada tak memberikan kenyamanan yang kita inginkan, ya tak masalah. Itu wajar-wajar saja. Yang penting di tempat manapun, asal kita tetap bisa berbuat yang baik (dalam bahasa agama, beramal saleh), itu sudah cukup.

Sebab yang penting bukanlah kita merasa nyaman atau tidak, tapi apa yang kita perbuat dalam keadaan nyaman dan tidak nyaman. Kalau tempatnya nyaman, tapi malah nganggur dan ngelamun saja; apa itu berarti banyak? Bukankah itu malah memerosotkan derajat kemanusiaan kita?

Balik ke pertanyaan awal, mengapa kita tak betah tinggal di suatu tempat? Kalau tanya wong tuwo, dengan sederhana biasanya beliau-beliau akan menjawab, “ Betah ga betah yo dibetah-betahke”. Betah atau tidak betah ya dibetahin aja. Begitulah.

Stay foolish, Stay hungry. Tetap merasa bodoh, dan tetap merasa lapar, begitu pesan Steve Jobs pada lulusan Stanford pada 2005 lalu. Kalau kita sudah terlanjur merasa nyaman, dan tak sadar untuk bergeser, mana mungkin kita dapat merasa bodoh dan tetap lapar?

Krapyak, 10-10-2011

Date is...


Risalah Tentang ‘Pacaran’

Apa yang ingin diketahui seseorang yang bertanya, bagaimana pacaran dalam Islam? Adakah pacaran yang islami? Atau yang lebih praktis, apa hukum pacaran dalam Islam?  Yang ditanya mungkin saja akan dengan mudah dan bersemangat untuk menyitir ayat-ayat Al Qur’an tentang larangan berbuat maksiat, atau hadits yang melarang laki-laki dan perempuan berkhalwat, berduaan. Atau yang lain, mungkin menjawab, ya tidak apa pacaran, asal tidak sampai menjurus kepada dosa-dosa besar. Jawaban dengan variasi lain, mungkin saja diberikan. Antara ya dan tidak. Kali ini, saya tidak akan berusaha membawa pembaca ke jawaban instan. Kita coba untuk berjalan dan membaca alur pikiran berbagai kemungkinan jawaban.
Sejujurnya, saya malas untuk membahas perkara ini. Pada akhirnya, saya harus menjawab, boleh atau tidak. Dua jawaban itu tidak ingin saya pilih, saya menyerahkannya ke penanya dan pembaca sendiri.
Untuk mendekati jawaban pertanyaan ini, kita dapat memilih beberapa jalan. Yang biasa ditempuh, adalah dengan menggunakan terminologi fiqih. Mulai halal, haram, sampai mubah. Memang begitulah fiqih. Ia tidak akan lari jauh dari perkara halal haram. Untuk masalah pacaran, kita dapat mendaftar sejumlah alasan, mengapa pacaran itu haram, misalnya. Mulai dari larangan berkhalwat, berjabat tangan, sampai ancaman mendekati zina. Dari semua alasan yang diajukan, lalu kita bisa menyimpulkan. Fiqih menjawab, pacaran itu haram.
Yang perlu kita ingat adalah pendekatan fiqih atas semua masalah. Fiqih memilih pendekatan khouf, takut. Fiqih itu cerminan kehati-hatian. Bagi fiqih, Tuhan adalah figur yang ditakuti, Dia yang harus ditaati semua perintah, kalau tidak, awas saja dengan dosa yang akan Anda tanggung. Ketika masalah pacaran diajukan kepada orang dengan perspektif fiqih, yang ada di benaknya adalah dosa dan pahala. Tidak ada yang santai dalam kehidupan, begitulah kira-kira yang diinginkan fiqih.
Jalan lain yang bisa kita tempuh, adalah mendekati masalah dengan ‘tangan’ tasawuf. Jangan dibayangkan bahwa tasawuf itu adalah urusan para orang tua, orang yang sudah tidak mau, ogah dengan dunia. Tasawuf adalah antitesis dari fiqih. Jika fiqih mendekati masalah dengan kerangka ‘takut’, tasawuf mendekatinya dalam kerangka ‘raja’’, harapan akan kasih sayang Tuhan. Tuhan bagi para sufi adalah Tuhan Yang Maha Pemaaf, Dia Yang Maha Penyayang.
Bagaimana jika perkara ‘pacaran’ itu diajukan ke majlis para sufi? Mereka tidak akan melarang Anda, tidak juga akan mendorong Anda. Istafti qolbaka, tanyakanlah kepada hatimu sendiri, sabda Nabi. Begitu pula jawaban dari para ahli tasawuf. Tuhan ada dalam hati kita masing-masing, tanyakan saja pada hati kita, jika ada masalah yang rumit. Apa hati akan memberikan jawaban halal haram?
Yang selalu saya ingat, ketika ditanya sesuatu menyangkut ajaran Islam adalah dua hal. Kasih dan kesederhanaan, atau dalam bahasa Arabnya, rahmah dan tawassuth. Ada sebuah hadits Nabi yang jarang dikutip, yang saya anggap amat sentral dalam ajaran Islam. “ Mereka yang mengamalkan cinta kasih, Tuhan Yang Maha Pengasih akan mengasihi mereka. Cintailah mereka yang ada di bumi, maka Yang Ada di langit akan mengasihimu.” Begitulah kira-kira terjemahan bebasnya. Kita mungkin masih ingat, kisah tentang seorang perempuan kafir yang masuk surga karena anjing. Alkisah, ada seorang perempuan kafir, pada suatu hari ia melihat anjing yang kelaparan. Si perempuan, terdorong oleh rasa kasihnya, memberikan makanan yang ia punya pada anjing tersebut. Ia masuk surga karena pertolongan sederhana itu. Ia tidak Islam? Ya, namun begitulah cerita dalam buku-buku tasawuf. Kasih Tuhan tak pandang agama.
Yang kedua adalah kesederhanaan. Kita adalah umat yang ada di tengah, begitu kata Al Qur’an. Atau sabda Nabi, perkara yang paling baik adalah yang madya. Islam tidak menganjurkan fanatisme, ekstremitas, atau keberlebihan yang lain, apapun itu namanya. Umat Islam adalah mereka yang mengajak pada jalan kesederhanaan dalam bersikap, moderat dalam berfikir, madya dalam laku.
Kalau mau pacaran, ya yang semadyanya. Kita tentu sama-sama tahu, mana rambu-rambu merah dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Kita tinggal menjaga, jangan sampai kena tilang. Jika merasa tidak kuat, ya benar juga sih, kata kawan-kawan ahli fiqih, jangan pacaran.
Bagi penulis, itu ada di tangan pembaca yang budiman sendiri. Mau pacaran monggo, enggak ya silakan. Yang penting, seperti kata MC acara dangdutan, ojo jotos-jotosan yo, Mas, Mbak.

Krapyak, kompleks xxx
15 April 2011
Tulisan ini hanya sebagai pemantik, dan tidak berniat memberikan jawaban apapun. Mari berbagi perspektif,J