Tuesday, October 11, 2011

Ocehan tak Ilmiah

Ocehan tak Ilmiah

Mengapa kita harus bisa juga menulis ilmiah? Atau lebih dalam lagi, mengapa harus berpikir ilmiah, dengan kaidah-kaidah yang berat, dengan berbagai macam bacaan berat. Mengapa tidak cukup dengan tulisan fiksi, tulisan curhat, atau tulisan-tulisan lain yang tak berat. Yang bisa digarap tanpa mengerutkan kening, yang bisa ditulis tanpa perlu ditata metodologi dan istilah-istilah teknis sialan itu. 

Bukannya tulisan yang bukan ilmiah itu justru akan lebih mudah terbaca, akan lebih gampang dipahami oleh masyarakat ketimbang tulisan ilmiah itu? Paling-paling tulisan ilmiah itu hanya akan dipahami oleh sesama kalangan, tak sampai menjangkau kaum ‘awam’. Bukannya itu akan jadi sebuah elitisme, menjadi golongan ekslusif dengan menerbitkan tulisan yang eksklusif.

Lalu apa, mengapa orang-orang berbondong-bondong masuk kuliah, menulis ilmiah, dan ilmu-ilmu diciptakan? Kata Jojo, kenapa terlalu serius? Akhirnya juga kita mesti menghadapi sebagian besar masyarakat yang bicara dalam bahasa yang populer. Nabi pun tak pernah menulis tulisan ilmiah kan? Bimbingan beliau malah lahir dari hadits-hadits yang seringkali amat sederhana kalimatnya. Mudah dipahami. Lalu kenapa coba? 

Tapi metode ilmiah ini telah diamini oleh ratusan, atau entah, ribuan orang. Para ilmuwan. Mereka yang berilmu. Metode ketat, tulisan terstruktur, dan lain sebagainya. 

Entahlah, Rendra yang kukenal sebagai seniman, seorang pujangga pun begitu menghormati metode ini. Pembaca dapat melihat wawancara ImpacTV dengan Rendra di youtube.com.

Rendra menekankan pentingnya kita tahu fakta objektif, mengumpulkannya, lalu mengkategorisasikannya, kemudian melakukan kritik. Rangkaian itu adalah metode ilmiah.
Suka atau tak suka, sepertinya metode ilmiah –begitu juga tulisan ilmiah—adalah ikhtiar untuk membuat pikiran kita tertata, menjauhi kesalahan dalam pemikiran. Kesalahan yang nantinya membikin salah tindakan. 

Ocehan di awal mungkin benar dalam satu hal, kita butuh tulisan-tulisan yang gampang dipahami. Tapi kita juga butuh tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar. Tulisan yang tidak asal-asalan, pemikiran bukan murahan. 

Merangkul keduanya adalah semestinya. Audiens tidak hanya masyarakat awam, tapi juga mereka yang ‘berpendidikan’. Salah jika mengabaikan bagian audiens yang satu ini.



No comments:

Post a Comment