Betah Tak Betah, Harus Betah
Pembaca, mengapa kita tak betah tinggal di suatu tempat?
Mungkin tempatnya tak nyaman. Ramai, terlalu sepi, atau apa lah. Tapi sepertinya kenyamanan itu begitu relatif. Sangat mudah berubah, sangat gampang berganti tolok ukurnya. Kadang saya suka tempat yang sepi, ingin ngekos. Setelah ngekos malah merasa kesepian, ingin tempat yang ada orangnya. Setelah ngontrak lagi, jadi pengen sepi lagi. Tak bisa konsentrasi, dalihku.
Lalu apa itu rasa nyaman?
Jika rasa nyaman itu begitu relatif, tergantung suasana hati, tempat kita berada atau dengan siapa kita berada; pertanyannya apa kenyamanan memang pantas dikejar? Ya, sangat manusiawi menginginkan rasa nyaman. Tapi seberapa jauh ‘kemanusiawian’ itu mesti dituruti?
Kita tahu kalimat yang sering diungkapkan orang ‘sukses’.(Saya tidak tahu apa ukuran sukses, sebab bagi saya, orang yang sudah berjuang semampunya). Keluarlah dari zona nyaman. Dari situ paling tidak, mereka ingin bilang, kalau zona nyaman itu patut diwaspadai. Jika kita sudah merasa nyaman berada di sebuah posisi, dalam label tertentu yang dicapkan orang lain, atau berada di tempat tertentu; bisa jadi kita malah tidak perasa. Tidak sensitif. Jangan-jangan kita telah ketinggalan banyak hal. Jangan-jangan kenyamanan yang kita punya membuat kita lupa melakukan hal penting. Jangan-jangan tempat nyaman itu malah membuat kita lupa untuk berjuang. Dan seterusnya.
Jika rasa nyaman itu relatif, kenapa tidak menciptakannya? Sekarang, di sini. Kalau tempat kita berada tak memberikan kenyamanan yang kita inginkan, ya tak masalah. Itu wajar-wajar saja. Yang penting di tempat manapun, asal kita tetap bisa berbuat yang baik (dalam bahasa agama, beramal saleh), itu sudah cukup.
Sebab yang penting bukanlah kita merasa nyaman atau tidak, tapi apa yang kita perbuat dalam keadaan nyaman dan tidak nyaman. Kalau tempatnya nyaman, tapi malah nganggur dan ngelamun saja; apa itu berarti banyak? Bukankah itu malah memerosotkan derajat kemanusiaan kita?
Balik ke pertanyaan awal, mengapa kita tak betah tinggal di suatu tempat? Kalau tanya wong tuwo, dengan sederhana biasanya beliau-beliau akan menjawab, “ Betah ga betah yo dibetah-betahke”. Betah atau tidak betah ya dibetahin aja. Begitulah.
Stay foolish, Stay hungry. Tetap merasa bodoh, dan tetap merasa lapar, begitu pesan Steve Jobs pada lulusan Stanford pada 2005 lalu. Kalau kita sudah terlanjur merasa nyaman, dan tak sadar untuk bergeser, mana mungkin kita dapat merasa bodoh dan tetap lapar?
Krapyak, 10-10-2011
No comments:
Post a Comment