Arsitektur Kekerasan : Kelaparan dan Laba
Dr David Nally
Saat berbincang mengenai kelaparan, konteks adalah segalanya. Dengan mudah, fakta ini tergambarkan. Bayangkan sejenak, aksi-aksi David Blaine, sang pesulap Amerika itu, pada 2003 dia beraksi dengan berada 44 hari di ruang pleksiglas tiga kali empat kaki digantungkan di dekat Tower Bridge, London, tanpa makanan sama sekali.
Blaine sepertinya termotivasi dengan cerita pendek Kafka, The Hunger Artist – dan mungkin saja bagi pikiran seorang pesulap uji ketahanan seperti ini adalah lanjutan yang logis dari aksi terkurung di balok es atau dikubur hidup-hidup – tapi bagi publik pertunjukan ini tampak konyol. Menahankan lapar, yang dijadikan pertunjukan, bagi banyak orang tampak konyol dan memuakkan. Blaine diolok-olok sebelum akhirnya ia ia mengakhiri aksinya.
Sekarang pikirkan sejenak, bayangan tentang lapar lebih sering tentang – anak kecil berkulit hitam, tanpa nama. Kita telah banyak melihat gambar si anak dalam berbagai perspektif : setengah telanjang, lalat mengerumuni matanya, perut sekurus batang kayu kecil, bibir pecah-pecah, pipi bekas terpaang panas mentari, kepala botak, dan pandangan kosong. Anak ini tentu amat kurang dan sangat membutuhkan makanan, tapi kita tidak mendapatkan nalar – paling tidak melalui gambar ini – bahwa si anak kelaparan karena terpaksa, ada yang membuatnya kelaparan. Gambar ini seolah menonjok kita, tapi ketika ia hanya berbicara, “aku lapar”.
Ketika mata pikiran kita merenungkan gambar-gambar seperti itu, mungkin kita akan terdorong untuk menyumbangkan uang, tapi kepada siapa sebenarnya kegelisahan kolektif kita tertuju? Siapa yang kita lawan karena telah mengkhianati hak anak-anak itu untuk memperoleh makanan? Foto dan gambar-gambar seperti itu – yang direplikasi beribu kali – menyajikan gambaran para korban, tanpa sang pelaku penindasan.
Untuk memperluas bayangan kita lebih jauh, kita dapat bertanya pada diri sendiri: mengapa sebagian besar orang marah karena aksi David Blaine dan mengapa publik umumnya merasa kasihan dengan potret seorang anak yang kelaparan? Mengapa tidak sebaliknya? Mengapa tidak merasa kasihan kepada si pesulap karena aksinya yang tak bermutu dan merasa marah terhadap potret anak yang terlantar hingga tubuhnya sedikit demi sedikit hancur?
Kata “lapar” (to starve), seperti yang ditekankan Alex de Waal, memiliki arti transitif dan intransitif (lihat lebih jauh bukunya yang penting, Famine Crimes : Politics and the Disaster Relief Industry). Menurut Kamus Oxford, to starve berarti “ mati atau kehilangan vitalitas karena kekurangan nutrisi” atau “ untuk merasakan kemiskinan dan keinginan yang ekstrim”. Sementara makna transitifnya, “ memaksa dengan rasa lapar atau diet; memaksa seseorang sampai kelaparan”, jarang dipakai, seolah memberikan kesan kelaparan bukanlah sesuatu yang diakibatkan seseorang atau kelompok sosial kepada yang lain. Mungkin kita mencari pelarian dengan rasa kasihan ketika ‘sang pelaku’ seolah terhapuskan, dan tidak ada orang yang bertanggung jawab atas tindakan ini.
Konstruksi Penderitaan
Fakta bahwa istilah yang digunakan untuk mendiskusikan persoalan kelaparan cenderung menutupi dan memitoskan kekerasan juga berarti signifikan pada bagaimana kita merima, dan tentu saja bagaiman kita secara sosial mengkonstruksi, penderitaan dari orang-orang asing nun jauh di sana. Bagi Susan Sontag, potret-potret yang menyajikan penderitaan mengandung “pesan ganda”. Di satu sisi, “ potret-potret itu menunjukkan penderitaan sebagai hal yang keterlaluan, tidak adil, dan harus dibenahi”, sementara di sisi lain, “membenarkan inilah yang terjadi di tempat tersebut”. Imajinasi geografis ini, Lanjut Sontag, “ tidak bisa tidak menumbuhkan kepercayaan tragedi tak bisa dihindari di belahan dunia yang miskin”.
Sayangnya, penggambaran kelaparan sebagai korban-korban yang tak mampu bersuara sangatlah umum. Terisolasi dan tak punya akses kepada dunia luar, mereka menunggu uluran tangan kita. Yang amat sedikit tergambarkan, perjuangan mereka untuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, untuk bertahan sedikit lebih lama. Dalam banyak kasus, anggota keluarga mesti memisahkan ikatan dengan lingkungannya: para lelaki pergi bermil-mil jauhnya dengan harapan bisa memberikan seserpih makanan bagi keluarganya; wanita dan anak-anak juga mencari makanan dan air, berjalan jauh untuk untuk mendapatkan bantuan medis di tenda-tenda pengobatan dan wilayah urban.
Ini bukan hanya masalah akademis tentang liputan yang akurat. Potret penderitaan bukanlah “ilustrasi pasif”, sebagaimana ditekankan Susan Moeller, tapi “sebuah konstuksi ideologis yang didesain untuk membenarkan ideal bangsa saat ini”. Penggambaran korban-koraban pasif ini memungkinkan LSM dan pemerintah Barat untuk mengasumsikan peran sebagai penyelamat tanpa mengajukan pertanyaan yang tak nyaman didengar tentang asal-usul penderitaan tersebut. Dengan mengirim “ selimut dan makanan” kelihatannya telah menyelamatkan banyak nyawa dalam jangka pendek, tapi bantuan ini takkan berpengaruh apapun pada ketidakadilan yang lebih penting yang menjadi asal mula kelaparan.
Kegagalan untuk mencari akar sejarah dari nasib buruk bangsa-bangsa miskin ini menjadi membingungkan karena pembedaan umum antara “faktor pemicu” (trigger factors) (yang secara tidak langsung dianggap layak berita) dan “penyebab asal” (underlying causes) kelaparan yang berangsur-angsur membuat terlantarnya masyakarat setempat. Seorang intelektual India, Amrita Rangasami, sebagai contoh, memahami kelaparan sebagai sebuah proses, bukan sebuah kejadian, sementara ahli sejarah David Arnold tetap bersikukuh kelaparan adalah “gejala bukannya penyebab dari kelemahan sosial”.
Argumen-argumen seperti itu memiliki genealogi yang panjang. John MacHale (1791-1881) seorang pendeta Katolik (?), saat menulis selama masa Kelaparan Besar di Irlandia pada tahun 1840an, bersikeras membedakan “keadaan-keadaan pendahulu dan pengaruh-pengaruh” dari “penyebab utama” kelparan. John Mitchel (1815-1875) lah yang menangkap perbedaan itu dalam aforismanya: “Yang Maha Kuasa, sungguh, yang mengirimkan benih kentang, tapi orang Inggris yang menciptakan kelaparan.” Ide dari orang Irlandia ini hampir sama dengan seorang Shakespeare, yang memberikan kalimat abadi kepada Shylock: “Dia lah yang mengambil nyawaku, dia yang merebut hal-hal di mana aku hidup.”
Namun bagaimana seluruh komunitas manusia dapat menerima keringkihan ini menjadi kejutan yang berasal dari luar? Jika tidak ada yang namanya “bencana alam”, seperti yang selalu diingatkan ahli geografi Neil Smith, pertanyaan pentingnya adalah “kekerasan politik” macam apa yang memproduksi dan memelihara kelaparan? Jawabannya menjadi agak buram dan butuh beberapa penjelasan.
Relatif mudah untuk membayangkan situasi di mana kelaparan adalah hasil dari kekerasan yang berlebihan. Di abad pertengahan, sebagai contoh, blokade militer didesain untuk membuat musuh kelaparan, hingga ia menyerah. Pengepungan, yang sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, adalah modus yang tidak jauh berbeda dalam peperangan untuk mengincar pasukan dan orang sipil, dengan tujuan yang sama. Ritual “tebang dan bakar” yang dipraktekkan oleh pasukan perang juga dikalkulasikan untuk memusnahkan segenap komunitas lawan dengan secara langsung menghancurkan sumber penghidupan mereka.
Mekanisme-mekanisme ekonomi tertentu juga beroperasi dengan cara yang keras dan langsung. Tarif, pajak, sistem sewa, dan kredit, sebagai contoh, dengan mudah diidentifikasikan sebagai “kekuatan ekstraktif” (extractive forces) untuk melepaskan masyarakat dari aset yang mereka punya, lalu meninggalkan mereka dalam keadaan kekurangan barang dan kelaparan. Dalam situasi-situasi seperti ini, masyarakat yang terkena dampak bisa menunjukkan siapa yang bertanggungjawab – mereka adalah para penarik pajak, yang meminjamkan uang, petani besar, dan pemilik tanah – fakta yang yang menjelaskan mengapa orang-orang tersebut sering menjadi target kekerasan masyarakat agraris.
Kesulitannya, tentu saja, tindak “kekerasan subjektif” ini (meminjam istilah Slavoj Zizek untuk “kekerasan yang dilakukan oleh agen yang dapat diidentifikasi”) jarang ditemukan dalam konteks kelaparan di masa modern, yang biasanya merupakan akibat dari rantai sebab-akibat yang melibatkan aktor lokal, nasional, dan internasional, sebagaimana pernah dijelaskan Abdi Samatar.
Kelaparan di wilayah Afrika Timur mendemonstrasikan bagaimana krisis pangan disebabkan oleh kejadian yang amat kompleks pada mulanya. Sebagian besar komentar menyalahkan aktifitas milisi di Somalia selatan, ditambah dengan kekeringan terburuk sejak 1950an. Tapi kekeringan bukanlah kondisi lingkungan yang baru di wilayah Afrika Timur, begitu pula masalah konflik bersenjata. Aktor-aktor internasional, melalui suplai senjata dan patronase politis (yang sering disebut “proxy force”, kekuatan representasi), mengarahkan konflik kekerasan demi kepentingan agenda politik mereka.
Pada waktu yang sama, di Afrika Timur, masyarakat desa yang dulunya bertahan hidup dengan hujan musiman, menjadi tak mampu menghadapi “kejutan” kekeringan akibat perubahan iklim. Menurut William Moseley, komersialisasi pertanian telah memberikan tekanan yang serius pada cara hidup tradisional di daerah tersebut:
Sejalan dengan meluasnya wilayah pertanian, termasuk beberapa pertanian komersial dalam skala besar, rute binatang ternak menjadi lebih terpusat dan lebih rawan kekurangan air. Perubahan dari praktek tradisional menuju modern ini juga berdampak buruk pada lahan pertanian. Di Etiopia, kontrak terhadap lahan besar, (atau “alih lahan”, land grabs) oleh pemerintah dan perusahaan asing di sektor tanaman ekspor (seperti minyak palem, beras dan gula) tambah memeprburuk masalah ini.
Harga Pangan Tetap Saja Mahal
Tekanan kebutuhan hidup sehari-hari oleh komersialisasi ini digerakkan oleh faktor ketiga yang membawa eksternalitas negatif dari sistem pangan modern pada sisi yang amat tipis. Harga pangan global yang semakin membubung berarti masyarakat lokal mesti membeli dengan harga mahal untuk barang-barang kebutuhan pokok mereka. Di Somalia harga gandum (?) dilaporkan melonjak 240 persen lebih tinggi dari setahun yang lalu. Di beberapa wilayah Kenya, menurut laporan yang lain, “harga jagung, makanan pokok negara ini, melonjak tiga kali lipat sejak Januari”. Sementara harga-harga makanan turun drastis pada 2009, setelah naiknya harga pada 2007-2008 saat kekacauan karena pagan menyebar di 48 negara, indeks harga pangan global, yang dipublikasikan oleh PBB, sekarang ada di tingkat yang amat tinggi dalam sejarah.
Apa penyebab dari perubahan harga yang ekstrem ini? Sekali lagi, berbagai faktor secara simultan meningkatkan permintaan dan membatasi suplai. Ini mencakup harga sumber energi yang tinggi, pengalihan biji-bijian untuk makanan dan untuk produksi biogas, sementara itu pemerintah asing dan lahan yang sudah dikontrak terus digunakan untuk meningkatkan laba mereka. Menurut beberapa ahli, sekarang kita sedang menyaksikan pergeseran struktural dalam rezim pangan global yang akan tetap menjaga harga pangan selalu tinggi untuk beberapa waktu mendatang. Internasionalisasi pasar global, dan finansialisasi sitem pangan khususnya, berarti bahwa krisis pangan akut ini menjadi lebih umum dan lebih sulit untuk didiagnosa.
Dalam buku terakhirnya, The Scramble for Africa, Padraig Carmody menunjukkan “ekstroversi Afrika” – di mana ekonomi “diarahkan untuk memenuhi kebutuhan orang lain di tempat lain” – membuat jalan keluar dari kemiskinan lebih sulit. Lanjut Carmody, tiga perempat dari seluruh ekspor Afrika berupa bahan-bahan pokok yang belum diproses, seperti bauksit dan kasiterit, yang menjadi subjek dari kenaikan harga yang cepat itu. Kelaparan, dalam konteks ini, secara tidak langsung berasal dari relasi pasar yang tidak adil.
Ada bukti yang cukup untuk menunjukkan ketika pasar bergerak melawan masyarakat miskin konsekuensinya bisa sangat mematikan. Sementara pemerintah di negara-negara maju, melalui WTO, melanjutkan “liberalisasi” ekonomi Afrika, saat itu pula mereka sangat sedikit memberikan perhatian kepada subisidi untuk negara-negara berkembang. Diantara banyak hal lain, “globalisasi” bermakna keputusan hidup mati dalam skala yang amat luas ditentukan oleh relasi ekonomi internasional yang canggih.
Sangat mudah untuk menyerah pada “kelelahan kepedulian”; ketika krisis menimpa, hal lain lah yang memenuhi surat kabar. Tapi hal itu malah menunjukkan lagi bahwa “hal yang terjadi di tempat itu” sebagian adalah dampak dari kebijakan yang dibuat di tempat ini, lebih banyak tanggungjawab yang kita pikul untuk melakukan sesuatu. Ketika melihat potret seorang anak yang kelaparan atau membaca orang-orang yang mati karena kekurangan makanan, semestinya kita menimbang dengan kritis ada arsitektur, rancang-bangun kekerasan di balik potret dan berita itu, bukan hanya kesan sedih dari sang korban. Ada kebutuhan, sebagaimana dikatakan Susan Sontag, untuk meletakkan hak-hak khusus dan penderitaan dalam peta yang sama.
Silahkan baca teks aslinya di: