Sang Pemikir : Lakukan Seperti Yang Kuperbuat atau Jangan Sama sekali
Oleh David Brooke
Beberapa minggu yang lalu, saya meminta kepada lebih dari 70 orang untuk mengirimkan semacam “Laporan Kehidupan” – essai tentang kehidupan mereka dan soal apa yang mereka lakukan dengan buruk dan baik. Tulisan-tulisan mereka membikin saya tercengang dan sulit berhenti, saya mencoba menyarikan beberapa pelajaran hidup umum dari tulisan-tulisan itu:
Buatlah pembabakan kehidupan. Para koresponden yang paling tidak berbahagia melihat waktu yang mereka jalani seperti aliran kejadian yang tak pernah usai, mereka terus saja mengapung-apun dalam aliran itu. Neil, salah seorang koresponden, mengeluhkan dirinya adalah “seorang seperti keledai bukan harimau; seorang pesimis alih-alih optimis; belalang tanpa tujuan bukannya seekor semut yang memiliki arah pasti; pemimpi bukan seseorang yang mau menjalani hidup; seorang awak kapal kecil bukan seorang petualang; penonton bukan aktor, pelaku atau seseorang yang suka ambil bagian.” Ia berkesimpulan: “Neil tidak pernah menjadi apapun.”
Mereka yang lebih bahagia, membagi kehidupan mereka menjadi layaknya fase-fase. Mereka menulis seperti : Ada enam keputusan krusial dalam hidup saya. Kemudian mereka menata kehidupan mereka dalam kerangka titik-titik penting tersebut. Dengan melihat kehidupan bisa dibagi menjadi mozaik-mozaik seperti ini, mereka dengan mudah dapat berhenti dan sejenak memuji diri. Dengan kata yang agak klise, mereka menulis takdir sendiri.
Tak usah terlalu berpikir terlalu serius tentang apa yang pernah Anda alami. Ada banyak esai panjang, detail pula yang ditulis oleh mereka yang ahli dalam menilai diri mereka sendiri. Merkea dengan sangat apik dan jelas menggambarkan emosi yang mereka rasakan. Tapi orang-orang ini biasanya tidak memenuhi kehidupan mereka, tidak juga bahagia. Ini tak saja disebabkan mereka terdorong untuk berintrospeksi ketika hal buruk terjadi. Melalui obsesi-diri, mereka kelihatannya malah memperkuat emosi, pikiran dan kebiasaan yang mereka coba hilangkan.
Sebagian besar orang-orang yang mengesankan, di sisi lain, adalah orang yang pintar membohongi diri mereka sendiri. Ketika sesuatu yang buruk datang, mereka melupakannya, memaafkan atau bahkan merasa bersyukur pernah mengalaminya. Ketika mesti bicara soal narasi-terhadap diri sendiri, kejujuran kadang bukan kebijakan yang terbaik.
Kamu tak bisa mengendalikan orang lain. David Lesan membuat sebuah pengamatan yang terbukti berkali-kali: “Aku butuh 20 tahun dari lima puluh tahun perkawinanku untuk bisa menyadari bahwa sangat tidak bijak untuk mengatur segalanya buat istriku. Aku juga belajar, kalau hal itu berlaku untuk kawan dan muridku.”
Di sisi lain, salah satu kisah yang sangat inspiratif berasal dari seorang orang tua angkat yang secara bijak menghabiskan waktunya menerima cercaan dan keluhan dari keluarga barunya, sampai secara perlahan ia diterima oleh anak angkatnya.
Ambil resiko. Tampak usang, tapi nasehat ini ternyata mujarab. Banyak orang tua yang menyesal untuk resiko yang tak pernah mereka ambil daripada menyesalkan diri karena telah melakukan tindakan beresiko.
Ukurlah seseorang dengan kemampuannya berkembang, bukan dari bakatnya. Esai-esai terbaik ditulis oleh orang-orang yang secara berangsur-angsur berkembang bahkan dalam hitungan dekade. Seorang Regina Titus tumbuh sebagai seorang pemalu dan terasing di Long Island. Ia menjadi babu, diperlukan dengan buruk. Suami pertamanya meninggal hanya dalam enam bulan perkawinan dan suami keduanya malah bunuh diri.
Tapi pribadinya tetap bertumbuh. Pada usia 56, ia bersekolah pada malam hari dan akhir pekan, ia memperoleh gelar sarjana dengan predikat cum laude, dari Marymount Manhattan College. Ia berpindah ke Wilmington, Delaware, bekerja sebagai dosen, belajar opera, berkemah, kerja sukarela dan banyak hal lain. Ia mengakui, “ Aku tidak mendapatkan kebahagiaan untuk menggendong bayi dengan lenganku. Aku juga tidak memiliki pernikahan yang bahagia.” Tapi ia memiliki kisah tentang ekspansi kemampuan diri yang tak terbendung. Aku tak tahu bagaiman harus mengukur kapasitas pribadi seperti ini.
Diterjemahkan secara bebas, dan dipotong di sana sini. Silahkan berkunjung ke situs Jakarta Globe (http://www.thejakartaglobe.com/columns/the-thinker-do-as-i-did-or-dont/481988) untuk artikel lengkapnya, dalam bahasa Inggris. Trims.
No comments:
Post a Comment