Monday, October 10, 2011

Kaidah Setan(ku)


Al Ahamm, tsumma al ahamm, tsumma al anfa’.
Yang paling penting, lalu yang agak penting, lalu yang lebih bermanfaat...
Membaca kaidah ini, aku jadi berfikir ini mungkin bisa jadi nasehat buat diriku sendiri. Aku membacanya dari lembaran kertas sholawat wahidiyah yang didapat Bapak entah dari mana. Bapak tertarik dengan dunia thoriqoh.
 Kita mesti mendahulukan yang lebih penting, lalu yang agak penting. Lalu baru yang kira-kira bermanfaat. Sense of importancy lebih didahulukan dari sense of usefulness. Usefulness itu bener terjemahan manfaat ga ya?hehe. tapi aku susah lagi. Bagaimana menentukan beda antara manfaat dan penting?
Kalau berdasarkan kamus Oxford di komputer ini, important dan usefulness terbedakan dalam valuenya. Nilainya, kalau importan itu significant. Kalau usefulness valuenya some, beberapa, sedikit. Tapi setan, relatif, bos.
Dikonkretkan yok.
Rokok itu signifant atau some? Penting atau bermanfaat? Penting atawa kurang penting?
Alasan
Rokok
Tidak
Psikologis


Akal


Kesehatan


Ekonomis


Moral


Agama


Lain-lain



Tapi apa daftarnya harus sedowu itu?
Bagaimana cara menentukan mana faktor yang paling penting di antara semuanya? Jangan-jangan, kembali lagi relatif. Aku tidak suka. Aku ingin sebuah parameter yang pasti. Pertimbangan mana yang harus lebih penting.
Ini urusan dunia atawa agama? Dunia. Bagiku dunia. Aku tidak ingin menghindarinya karena takut implikasi dosa.
Kupikir, ada alat analisis sederhana untuk mengukur apa itu manfat, penting, atau buang-buang waktu saja.
Kaidahnya:
“Ketika aku melakukan apapun itu, dengan senang hati, tanpa merasakan berat, tanpa beban sedikitpun, itu indikator bahwa apapun itu, ia tidak penting, tidak manfaat, buang-buang waktu.”
“Apa yang kulakukan dengan berat hati, dengan malas-malasan, dengan disertai rasa berat, itu indikator, apapun itu ia akan bermanfaat, berguna, dan penting.”
Aku suka kaidah ini. kaidah itu adalah pemborosan kata untuk kalimat Nabi yang serba ringkas,
Al jannatu huffadz bil makarihi, an naru huffadz bil maladzi.
Surga itu dikelilingi perkara-perkara yang melenakan hati,
Neraka itu dikeliling perkara-perkara yang lezat di hati,
Sok banget ya yang nulis? Hehehe...

No comments:

Post a Comment