Saturday, November 12, 2011

Watak dan Batuk


Watak dan Wathuk

Kata Simbah, entah Pak Yai, entah siapa, aku lupa pastinya, “ Watek iku ora wathuk. Nek wathuk iso diobati, nek watek iku yo tetep wae ngono.” Terjemahan bebasnya, watak seseorang itu tak bisa diubah. Kalau orang batuk bisa diobati, tapi kalau watak jelek, ya tetap akan seperti itu. 

Kalimat itu hampir selalu terngiang di benakku tiap kali ada pembicaraan soal watak dan karakter seseorang. Kalau orangnya penakut, ya sampai mampus tetap penakut. Kalau orang itu jantan ya sampai modar akan tetap jantan. Orang tidak bisa berubah. Kita tinggal menerima sifat yang menjadi watak kita. Watak tidak masuk dalam wilayah ikhtiar.

Jarang sekali terbersit olehku kalau beberapa orang juga berhasil merubah dirinya. Kita tentu sudah banyak mendengar, preman yang di akhir usianya bertobat. Anak yang tidak pernah serius sekolah, “tiba-tiba” jadi begitu tekun. Atau kalau pembaca adalah anak pesantren, tentu pernah mendengar kisah Syeikh Ibnu Hajar. Beliau dijuluki Ibnu Hajar, karena pelajaran moral yang ia dapat dari batu. 

Konon, beliau di waktu muda begitu dedhel, nyantri bertahun-tahun tidak juga pintar-pintar. Otaknya tidak sejalan dengan keinginannya untuk jadi pandai. Suatu saat, dalam perjalanan entah kemana, hujan turun lebat. Syeikh Ibnu Hajar muda bernaung, dan beliau melihat batu-batu yang tertetesi air hujan. Batu itu dhekok, ada bekas air hujan yang sampai membuat batu itu berlubang. Eureka.
 
“ Batu saja yang keras begitu jika ditetesi air terus menerus akan berbekas juga. Masak ya otakku kalau dipakai belajar terus tidak pintar-pintar. Mungkin aku kurang keras dalam belajar.” Lalu beliau kembali ke gurunya, dan meneruskan studinya. Sekarang, Syeikh Ibnu Hajar dikenang sebagai salah satu ulama’ Islam kenaman. 

Banyak kisah tentang perjuangan orang-orang pantang menyerah untuk mengggapai cita-cita, untuk mengubah sifat-sifat yang sudah terlanjur dicapkan kepada mereka. Ada buku bagus, judulnya “Gapailah Mimpimu” penulisnya bernama pena Hoeda Manis. Kisah-kisahnya inspiratif, soal merubah hidup.

Kembali soal watak, kenapa orang-orang tua begitu yakin ketika mengucapkan itu? Biasanya omongan orang tua mengandung kearifan hidup. Kupikir juga tetap ada benarnya, watak itu tidak bisa diubah. Tapi apa kalau kita punya watak buruk, yang harus kita “kalahkan”, mesti menyerah pada watak itu? 

Orang desa itu orang komunal. Kami suka bergosip, kami suka bergunjing, omong-omong soal orang lain. Aku jadi teringat, kami sering membincangkan orang yang pelit. Orang yang tak pernah bermuka senyum. Orang yang kasar. Orang yang usil. Dari kecil sampai sekarang, mereka tetap saja begitu. Tetap dengan watak mereka. Watak tidak bisa diubah kan?

Kalau pembaca orang Islam, mungkin pernah mendengar hadits yang menyatakan kalau rezeki, jodoh, mati, dan beruntung atau tidak itu sudah tertulis. Tertakdirkan. Siapa yang bisa merubah takdir? Pembaca mungkin menjawab ada takdir yang bisa dirubah. Iya, ada. Tapi saya kok entah, percaya, kalau ada takdir yang tidak bisa diubah.

Bicara watak, sama dengan bicara takdir. Meminjam frasa Gie, soal takdir dan soal watak itu “tak seorang setan pun tahu.”Kalau memang tak tahu, kenapa susah-susah pura-pura tahu? 

Aku tidak tahu, apakah takdirku baik atau buruk. Aku juga tak tahu, apakah aku bisa mengubah watakku yang penakut, pemalas, dan serba tak cepat tanggap. Tapi setidaknya tahu, aku bisa menggerakkan tanganku. Aku bisa berpikir. Aku bisa tersenyum.
Terima kasih Tuhan, matur nuwun Ya Allah.

Gowok, jelang subuh.

No comments:

Post a Comment