Friday, November 11, 2011

Refleksi Cerpen Pak Kunto

Kenapa Tidak Mencintai Bunga-Bunga?

Alur berpikir manusia yang paling dasar adalah dengan membuat oposisi biner. Begitu tutur seorang kawan kemaren sore. Ada hitam, ada putih. Ada baik, ada yang buruk. Ada langit, ada bumi. Ada yang Pancasilais, ada yang non Pancasilais. Manusia lalu “hanya” bisa memilih diantara dua alternatif itu. Kuntowijoyo dalam cerpennya, Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, seolah mengingatkan tidak selamanya dunia dapat disederhanakan dalam bentuk perlawanan antara dua hal. 

“Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin?”tanya sang Kakek. Anak kecil itu menjawab dengan yakin, “ Tidak ada, Kek.” Itulah sepenggal dialog dalam cerpen tersebut. Si Anak menjadi begitu tertarik dengan pemikiran Kakek tua yang baru saja dikenalnya.

Si Anak berhadapan dengan dunia yang amat berbeda dalam rumah tua kakek itu. Si Kakek gemar dan mencintai bunga. Halaman rumahnya penuh dengan bermacam bunga. Tiap kali ia berkunjung, mereka akan berbincang tentang bunga. Tentang hidup yang mesti dihadapi bak bunga, dalam ketenangan, dalam keindahan. Yang lain adalah perwujudan nafsu. 

Sementara di rumah, ia mesti berhadapan dengan sang Ayah. Ayahnya selalu pulang dalam keadaan kotor. Penuh gemuk, penuh bekas oli bekas kerjanya di bengkel. Kata ayahnya, “ Malas adalah musuh terbesar laki-laki.” Kata-kata ayahnya selalu dalam nada tinggi, kasar. Kontras dengan sahabat tuanya yang selalu berkata lembut, dan murah senyum.
Cerpen ini bercerita, salah satunya, tentang konflik batin si Anak memilih antara : si kakek dan si ayah. Pada akhir cerita, memang si anak lalu membuat resolusi. “ Bagaimana pun, aku adalah anak ayah dan ibuku.” Pilihannya jatuh untuk memilih jalan yang dipilih oleh ayahnya, laku kerja. Kerja yang berkeringat.

Namun yang menarik bagai saya adalah proses pergulatan batin si anak sebelum mencapai resolusi itu. Bagi saya, sangat sah untuk memilih salah satunya. Atau dua-duanya. Kita diajak bergulat dengan masalah oposisi biner. Apakah si anak mesti memilih salah satu dari dua jalan yang ia lihat? Apakah keduanya dapat disederhanakan dalam dikotomi baik dan buruk?
Si ayah melarangnya mencintai bunga-bunga. Laki-laki tidak boleh menyukai bunga, itu cengeng. Sedangkan si kakek malah berfilsafat, dan menerangkan betapa bunga dapat menjadi perlambang kehidupan. Betapa dari bunga, seseorang dapat belajar tentang ketenangan jiwa. Si kakek adalah proyeksi kehidupan bak air yang tenang. Si ayah adalah air yang menggelegak, ingin melahap kehidupan dengan laku kerja. 

Saya jadi berpikir, pergulatan ini seperti memilih antara seni untuk seni atau seni untuk masyarakat. Indonesia mau merdeka dengan diplomasi, atau dengan jalan perang? Kita memang harus tetap memilih. Tapi tidak mesti terjebak dalam logika oposisi biner.
Saya juga menjadi bertanya, mengapa agama banyak sekali membuat dikotomi, pandangan dunia bahwa semua bisa dipisahkan jadi dua. Apakah saya yang kurang paham agama, atau bagaimana? Ada surga ada neraka. Ada yang beriman ada yang kafir. Dan kita mesti memilih.
Pak Kunto, apakah kita boleh tidak mencintai bunga-bunga?

B21, malam jum’at, sendiri menghadap ketakutan diri

No comments:

Post a Comment