Monday, October 10, 2011

Ngaji Mbah Dur Grobogan


Mengaji dari Mbah Durahman, kalau aku tak salah, beliau seorang Kyai dari Bandungsari, Grobogan. Tidak, aku tidak nyantri secara fisik di pesantren beliau, tidak juga ikut pengajian secara fisik. Hanya mendengarkan mp3, thanks to Bapak Godong.

Kata para Ulama, mengaji tanpa bimbingan guru akan tersesat. Aku nyuwun ngapuro, kalau tidak sesuai dengan anjuran para ulama untuk berguru. Ngapuntene, kulo mung sagete ngrungokke ngaos saking laptop.

Baru saja Mbah Durrahman memaparkan pelajaran soal ikhlas. O iya, mp3 yang kupunya adalah pengajian beliau saat mengajarkan kitab Al Hikam, karangan Syaikh Samarqandi.

Beliau memberikan beberapa resep untuk mendekati ikhlas. Sebab, ujar beliau, ikhlas itu berkelas-kelas. Ada kelas sekadar kulit fiqhiyyah, ada yang menengah yang dekat dengan tasawuf, ada yang benar-benar sadar bahwa yang ada hanya Allah. Menyadari perbedaan kelas itu, kita jadi tidak memaksakan diri yang kalau tidak hati-hati bisa membuat kita tidak tahu kadar kemampuan diri, akhirnya merusak diri sendiri.

Pertama, dengan menumbuhkan ‘rasa penting’ untuk momen ibadah. Contoh yang menarik dari beliau, misalnya, ketika mempelai pria dan wanita telah ada di kamar, untuk malam pertama? Apa yang ia pikirkan tentu tidak akan keluar dari bilik cinta mereka. Sang pria hanya memikirkan si wanita, dan si wanita hanya mengkhusyu’i sang pria. Saat kita sedang menghadap presiden, dan di samping kita ada menteri-menteri, ah, malah ada kepala desa kita, siapa yang akan paling kita perhatikan? Begitulah saat kita beribadah, semestinya.

Kedua, membiasakan diri beribadah. Ah, kalau misalnya kita suatu hari entah karena kerasukan setan apa, jadi tekun membaca Al Qur’an, tiba-tiba ikut jama’ah, rasakan benar-benar, apa yang sampeyan rasa. Kalau ada orang lewat, ah, dia memperhatikanku, ah, kalau saja dia punya anak cewek yang yahud. Tapi kalau seseorang yang sudah biasa baca Qur’an, biasa jama’ah, apa yang ia rasakan ketika ada orang lain di sebelahnya, sekalipun presiden? Yah, mungkin serasa diperhatikan, tapi apa ia akan menjadi sama groginya dengan mereka yang baru mulai? Mulai saja beramal, ikhlas akan menyusul kemudian, insya Allah.

Ketiga, ini yang paling sophisticated buatku, adalah dengan merasa bahwa Allah sedang memperhatikan kita. Sadar, bahwa semua yang kita lakukan hanya bisa terjadi kalau ada ‘tangan’ Allah yang mendorong kita. iyyaKa nasta’iin, adalah anjuran untuk saran ketiga ini dari Qur’an.
Mbah Durahman, agak menyimpang dari materi, adalah kyai tipikal Jawa pesantren. Humoris, mampu membawakan materi yang berat dengan ibarat yang ringan, mampu menciptakan analogi-analogi jitu untuk mengiluminasi pikiran kita. Cerah rasanya ketika beliau telah selesai dengan kalimat beliau. Bahasan tentang ikhlas ini adalah salah satu contoh. Mulanya, yang ada dalam bayanganku soal ikhlas hanyalah kalimat liLlahi ta’ala, dan ia adalah lawan dari riya’. Tapi dengan penjelasan dari Mbah Durahman, rasanya bisa menjelaskan kepada pembaca secara agak panjang lebar mengenai topik yang satu ini.

No comments:

Post a Comment