Melepas Ketergantungan Desa
Judul : Melawan Ketergantungan : Kebijakan Pangan dan Pengalaman Pengorganisasian Tiga Desa
Penulis : Nurhady Sirimorok
Tebal : vii + 213 Halaman
Penerbit : Insist Press
Desa harus jadi kekuatan ekonomi
Agar rakyatnya tak hijrah ke kota
(Desa, Iwan Fals)
Bagi masyarakat modern, desa tidak memiliki makna selain nostalgia dan tempat wisata. Ironisnya, masyarakat desa pun banyak yang meninggalkan desa mereka demi ‘masa depan yang lebih baik’. Begitu banyak angkatan muda desa yang melakukan urbanisasi karena tidak menemukan lapangan kerja di tempat asalnya.
Mulanya adalah Revolusi Hijau. Revolusi Hijau adalah sebuah kebijakan yang amat populer di era 70 sampai 80 an. Penggunaan bibit hibrida, pemanfaatan pestisida, pemakaian pupuk kimia adalah beberapa program intinya. Tujuannya untuk menggenjot produksi pangan dalam waktu singkat.
Indonesia mengadopsi kebijakan ini pada era Soeharto. Kita masih ingat Indonesia pernah mendapatkan predikat sebagai negara dengan swasembada pangan pada 1986. Ini adalah ‘jasa’ dari Revolusi Hijau. Namun imbas dari kebijakan ini petani menjadi semakin tergantung pada pemerintah dan perusahaan agribisnis. Petani harus membeli semua kebutuhan produksi mulai dari bibit, pupuk sampai obat pembasmi hama dari pemerintah dan pabrik.
Petani kecil dan petani penggarap tentu mati kutu. Bayangkan saja, pendapatan bulanan mereka hanya berkisar antara 150 ribu sampai 300 ribu per bulan. Artinya, jatah belanja harian mereka hanya sekitar Rp. 3000 (hlm.192). Mana sanggup mereka membeli sumber daya produksi untuk pertanian mereka?
Akar masalahnya adalah paradigma pemerintah tentang kesejahteraan. Bagi para birokrat kita, kesejahteraan rakyat hanya diukur dengan agregat pendapatan nasional. Pada konteks pertanian, jika produksi beras sudah mencapai target pemerintah maka petani sudah dianggap sejahtera. Dijalankanlah resep Revolusi Hijau. Petani ‘dianjurkan’ menanam bibit hibrida, agar cepat panen. Agar tanaman lebih sehat, pupuk kimia dan pestisida wajib digunakan. Imbasnya, keuntungan petani semakin berkurang. Uang mereka habis di level produksi. Selain itu harga gabah pun sering anjlok di pasaran.
Ikhtiar Pemberdayaan
Melawan Ketergantungan , sebagaimana judul buku ini, adalah pesan utama dari buku ini. Dengan mengemukakan pengalaman Sekolah Rakyat Petani (SRP) Payo-Payo, para penulis ingin menunjukkan mandulnya kebijakan pemerintah di level petani.
SRP Payo-Payo mengadakan pendampingan di tiga desa yakni Tampobulu, Soga dan Bone. Konsep pemberdayaan diusung adalah pembentukan Tim Desa. Tim ini didasarkan pada kerangka pemikiran bahwa masyarakat desa lah yang harus aktif dalam memajukan desa mereka, bukan orang luar. Tim Desa ini diharapkan dapat menjadi wadah berkumpul masyarakat untuk berdiskusi, menyusun rencana dan berefleksi bersama.
Pada prakteknya, para fasilitator menemukan berbagai kesulitan mulai dari saat riset desa sampai pelaksanaan program. Umumnya fasilitator kurang memiliki kemampuan teknis bertani sehingga masyarakat sulit mempercayai ‘fatwa’ mereka. Kemudian karena fasilitator berasal dari daerah lain, mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk berbaur.
Kasus yang cukup menarik dialami oleh Atikah, fasilitator di Desa Bonne Bonne. Karena ia perempuan, petani yang sebagian besar laki-laki kurang bisa menaruh kepercayaan kepadanya. Ketika ia memberikan penyuluhan dan sosialisasi mengenai berbagai cara tani yang lebih efektif, ia diacuhkan begitu saja. Ia kemudian memanfaat Posyandu. Sambil melayani ibu-ibu yang datang ke Posyandu, ia memberikan informasi mengenai pertanian.
Ketiga desa tersebut memiliki masalah yang sama, yaitu pangan dan energi. Dari riset kecil-kecilan yang dilakukan di Tampobulu, pengeluaran per tahun di tiap desa hampir mencapai 3 miliar (hlm.59). Sebagian besar penduduk mengkonsumsi barang-barang yang tidak bisa diperoleh di desa sendiri. Sementara itu, masyarakat juga masih bergantung pada minyak tanah untuk memasak. Para fasilitator memperkenalkan teknologi sederhana seperti biogas dan minyak jarak untuk mengurangi konsumsi minyak tanah. Sedangkan untuk mengatasi masalah konsumsi kebutuhan harian, warga dianjurkan untuk menanam sayuran di pekarangan rumahnya. Sekarang Desa Tampobulu, Bonne-Bonne dan Soga telah berhasil berdaulat dalam pangan.
Buku ini wajib dibaca oleh para aktifis LSM, akademisi pada umumnya, dan juga mahasiswa yang hendak atau sedang melakukan KKN. Buku ini bisa menjadi bacaan wajib untuk mereka sebagai bahan refleksi tentang nasib petani kecil di negeri kita.
B21, 12 Oktober 2011

No comments:
Post a Comment