Sunday, November 13, 2011

Maaf, seperti khutbah


Maaf, Seperti Khutbah
Iri dilarang dalam Islam. Mungkin di dalam semua agama begitu juga. Menghendaki apa yang dimiliki orang lain, sambil memendam benci, sambil merapal agar sesuatu itu hilang darinya itu bukan perbuatan terpuji, kata guruku di madrasah diniyah dulu. Kata Nabi, iri hati akan menghancurkan amal seperti api membakar kayu.
Terkadang aku berpikir kembali, apakah semua iri hati itu salah? Iri hanya dengan makna ingin mendapatkan yang orang lain punya. Iri dengan kawan yang sudah punya pacar. Iri dengan sobat yang sudah mampu bekerja. Soalnya sering aku merasakannya.
Lamat-lamat aku ingat ada salah satu hadits yang menganjurkan untuk bersikap iri, kalau tak salah bahasa Arabnya ghibdhah. Bukan hasad. Iri kepada orang-orang yang berjuang di jalan kebenaran, kepada orang yang dekat dengan Al Qur’an itu boleh. Sebab itu akan membuat seseorang terpacu untuk berbuat baik.
Kalau iri dengan kawan yang suka bekerja, dan itu membuatmu malu bersikap malas, itu sangat dianjurkan. Sebab iri yang kita rasakan mendatangkan kebaikan buat diri kita. Kita jadi mau berbuat baik, jadi terdorong untuk menapaki jalan yang sama dengan mereka yang saleh.
Namun jika perasaan itu malah membuat kita terjerumus dalam perasaan itu sendiri, dan tidak tergerak, ya iri itu buruk. Malahan kalau membuat kita jadi putus asa, dan merasa tidak mampu untuk seperti mereka, itu malah jadi lebih buruk lagi.
Seperti khutbah agamawan ya?
Maaf pembaca,

Saturday, November 12, 2011

Watak dan Batuk


Watak dan Wathuk

Kata Simbah, entah Pak Yai, entah siapa, aku lupa pastinya, “ Watek iku ora wathuk. Nek wathuk iso diobati, nek watek iku yo tetep wae ngono.” Terjemahan bebasnya, watak seseorang itu tak bisa diubah. Kalau orang batuk bisa diobati, tapi kalau watak jelek, ya tetap akan seperti itu. 

Kalimat itu hampir selalu terngiang di benakku tiap kali ada pembicaraan soal watak dan karakter seseorang. Kalau orangnya penakut, ya sampai mampus tetap penakut. Kalau orang itu jantan ya sampai modar akan tetap jantan. Orang tidak bisa berubah. Kita tinggal menerima sifat yang menjadi watak kita. Watak tidak masuk dalam wilayah ikhtiar.

Jarang sekali terbersit olehku kalau beberapa orang juga berhasil merubah dirinya. Kita tentu sudah banyak mendengar, preman yang di akhir usianya bertobat. Anak yang tidak pernah serius sekolah, “tiba-tiba” jadi begitu tekun. Atau kalau pembaca adalah anak pesantren, tentu pernah mendengar kisah Syeikh Ibnu Hajar. Beliau dijuluki Ibnu Hajar, karena pelajaran moral yang ia dapat dari batu. 

Konon, beliau di waktu muda begitu dedhel, nyantri bertahun-tahun tidak juga pintar-pintar. Otaknya tidak sejalan dengan keinginannya untuk jadi pandai. Suatu saat, dalam perjalanan entah kemana, hujan turun lebat. Syeikh Ibnu Hajar muda bernaung, dan beliau melihat batu-batu yang tertetesi air hujan. Batu itu dhekok, ada bekas air hujan yang sampai membuat batu itu berlubang. Eureka.
 
“ Batu saja yang keras begitu jika ditetesi air terus menerus akan berbekas juga. Masak ya otakku kalau dipakai belajar terus tidak pintar-pintar. Mungkin aku kurang keras dalam belajar.” Lalu beliau kembali ke gurunya, dan meneruskan studinya. Sekarang, Syeikh Ibnu Hajar dikenang sebagai salah satu ulama’ Islam kenaman. 

Banyak kisah tentang perjuangan orang-orang pantang menyerah untuk mengggapai cita-cita, untuk mengubah sifat-sifat yang sudah terlanjur dicapkan kepada mereka. Ada buku bagus, judulnya “Gapailah Mimpimu” penulisnya bernama pena Hoeda Manis. Kisah-kisahnya inspiratif, soal merubah hidup.

Kembali soal watak, kenapa orang-orang tua begitu yakin ketika mengucapkan itu? Biasanya omongan orang tua mengandung kearifan hidup. Kupikir juga tetap ada benarnya, watak itu tidak bisa diubah. Tapi apa kalau kita punya watak buruk, yang harus kita “kalahkan”, mesti menyerah pada watak itu? 

Orang desa itu orang komunal. Kami suka bergosip, kami suka bergunjing, omong-omong soal orang lain. Aku jadi teringat, kami sering membincangkan orang yang pelit. Orang yang tak pernah bermuka senyum. Orang yang kasar. Orang yang usil. Dari kecil sampai sekarang, mereka tetap saja begitu. Tetap dengan watak mereka. Watak tidak bisa diubah kan?

Kalau pembaca orang Islam, mungkin pernah mendengar hadits yang menyatakan kalau rezeki, jodoh, mati, dan beruntung atau tidak itu sudah tertulis. Tertakdirkan. Siapa yang bisa merubah takdir? Pembaca mungkin menjawab ada takdir yang bisa dirubah. Iya, ada. Tapi saya kok entah, percaya, kalau ada takdir yang tidak bisa diubah.

Bicara watak, sama dengan bicara takdir. Meminjam frasa Gie, soal takdir dan soal watak itu “tak seorang setan pun tahu.”Kalau memang tak tahu, kenapa susah-susah pura-pura tahu? 

Aku tidak tahu, apakah takdirku baik atau buruk. Aku juga tak tahu, apakah aku bisa mengubah watakku yang penakut, pemalas, dan serba tak cepat tanggap. Tapi setidaknya tahu, aku bisa menggerakkan tanganku. Aku bisa berpikir. Aku bisa tersenyum.
Terima kasih Tuhan, matur nuwun Ya Allah.

Gowok, jelang subuh.

Friday, November 11, 2011

Refleksi Cerpen Pak Kunto

Kenapa Tidak Mencintai Bunga-Bunga?

Alur berpikir manusia yang paling dasar adalah dengan membuat oposisi biner. Begitu tutur seorang kawan kemaren sore. Ada hitam, ada putih. Ada baik, ada yang buruk. Ada langit, ada bumi. Ada yang Pancasilais, ada yang non Pancasilais. Manusia lalu “hanya” bisa memilih diantara dua alternatif itu. Kuntowijoyo dalam cerpennya, Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, seolah mengingatkan tidak selamanya dunia dapat disederhanakan dalam bentuk perlawanan antara dua hal. 

“Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin?”tanya sang Kakek. Anak kecil itu menjawab dengan yakin, “ Tidak ada, Kek.” Itulah sepenggal dialog dalam cerpen tersebut. Si Anak menjadi begitu tertarik dengan pemikiran Kakek tua yang baru saja dikenalnya.

Si Anak berhadapan dengan dunia yang amat berbeda dalam rumah tua kakek itu. Si Kakek gemar dan mencintai bunga. Halaman rumahnya penuh dengan bermacam bunga. Tiap kali ia berkunjung, mereka akan berbincang tentang bunga. Tentang hidup yang mesti dihadapi bak bunga, dalam ketenangan, dalam keindahan. Yang lain adalah perwujudan nafsu. 

Sementara di rumah, ia mesti berhadapan dengan sang Ayah. Ayahnya selalu pulang dalam keadaan kotor. Penuh gemuk, penuh bekas oli bekas kerjanya di bengkel. Kata ayahnya, “ Malas adalah musuh terbesar laki-laki.” Kata-kata ayahnya selalu dalam nada tinggi, kasar. Kontras dengan sahabat tuanya yang selalu berkata lembut, dan murah senyum.
Cerpen ini bercerita, salah satunya, tentang konflik batin si Anak memilih antara : si kakek dan si ayah. Pada akhir cerita, memang si anak lalu membuat resolusi. “ Bagaimana pun, aku adalah anak ayah dan ibuku.” Pilihannya jatuh untuk memilih jalan yang dipilih oleh ayahnya, laku kerja. Kerja yang berkeringat.

Namun yang menarik bagai saya adalah proses pergulatan batin si anak sebelum mencapai resolusi itu. Bagi saya, sangat sah untuk memilih salah satunya. Atau dua-duanya. Kita diajak bergulat dengan masalah oposisi biner. Apakah si anak mesti memilih salah satu dari dua jalan yang ia lihat? Apakah keduanya dapat disederhanakan dalam dikotomi baik dan buruk?
Si ayah melarangnya mencintai bunga-bunga. Laki-laki tidak boleh menyukai bunga, itu cengeng. Sedangkan si kakek malah berfilsafat, dan menerangkan betapa bunga dapat menjadi perlambang kehidupan. Betapa dari bunga, seseorang dapat belajar tentang ketenangan jiwa. Si kakek adalah proyeksi kehidupan bak air yang tenang. Si ayah adalah air yang menggelegak, ingin melahap kehidupan dengan laku kerja. 

Saya jadi berpikir, pergulatan ini seperti memilih antara seni untuk seni atau seni untuk masyarakat. Indonesia mau merdeka dengan diplomasi, atau dengan jalan perang? Kita memang harus tetap memilih. Tapi tidak mesti terjebak dalam logika oposisi biner.
Saya juga menjadi bertanya, mengapa agama banyak sekali membuat dikotomi, pandangan dunia bahwa semua bisa dipisahkan jadi dua. Apakah saya yang kurang paham agama, atau bagaimana? Ada surga ada neraka. Ada yang beriman ada yang kafir. Dan kita mesti memilih.
Pak Kunto, apakah kita boleh tidak mencintai bunga-bunga?

B21, malam jum’at, sendiri menghadap ketakutan diri