Maiyahan 1 7 Maret
2014 : Tentang Laku Ksatria dan Ilmu Kita
Memetakan apa saja yang kita dapat dalam sebuah forum,
apapun itu, memang sulit. Setidaknya bagi saya. Apalagi kalau tidak disertai
fokus. Apalagi kalau forum dan jagongan itu adalah Maiyahan. Banyak orang alim,
diselingin musik Kyai Kanjeng yang asyik, plus omongan ngalur ngidul yang
menembak kemana-mana. Ibaratnya bak menemu ladang mutiara, sementara kita tak
punya wadah yang cukup untuk menampung semua. Apalagi kalau tidak paham, mana
mutiara yang sip dan mana yang biasa saja. Itulah kira-kira, yang tertulis di
paragraf-paragraf selanjutnya adalah apa yang saya anggap mutiara. Dus, kalau
ternyata menurut pembaca yang budiman salah satunya berguna, monggo diambil
saja. Dan kalau ternyata semuanya imitasi, karena kekurangpahaman dan lemahnya
hafalan penulis, silahkan dicampakkan saja.
Saya sampai di tempat Maiyahan pas ada pentas lakon tari.
Tari dari Magelang, kalau tidak salah. Entah tari apa namanya. Halaman dan
jalanan sekitar rumah cak Nun sesak, sehingga tidak bisa merangsek ke depan. Kali
ini, saya mendengar Cak Nun, dan hanya menyaksikannya sedikit.
Tari itu melambangkan kegagahan, sikap ksatria dari
manusia Jawa. Tidak seperti gambaran manusia Jawa pada umumnya yang
klemar-klemer, alon waton klakon, dsb. Imaji manusia Jawa juga ada yang gagah
seperti yang hendak disampaikan tari ini.
Inilah yang menurut CN hilang dari manusia Indonesia.
Keberanian untuk bersikap gagah. Gagah menghadapi hidup, gagah dalam hidup. Sekarang
yang terjadi, orang jadi banci. Jarang orang yang mau bersikap ksatria dalam
lakunya.
“Pilih endi, pengecut ning sugih opo ksatrio ning miskin?”
tanya Cak Nun pada para jamaah Maiyah. Jawaban hadirin agak kurang kompak,
sepenangkapan telinga saya. Mungkin, dan sekali lagi mungkin, pilihan untuk
jadi ksatria namun miskin tetap berat.
Kalau yang saya pahami,d ari Maiyahan ini laku dan sikap
ksatria itu ya berani itu. Berani memikul tanggung jawab, wani rekoso asal
bener, wani miskin asal mulyo atine. Ini semua laku yang ga enak sekali dalam
kerangka nafsu.
Cak Nun misalnya mencontohkan, orang ksatria itu pantang
meminta-minta. Minta dicoblos, misalnya dalam konteks pemilu. Mukanya dipajang
dimana-mana minta dicoblos. Minta sumbangan, dsb.
Sabrang juga bercerita, dalam konteks sikap ksatria dan
pendidikan anak, dulu waktu kecil, ia begitu saja dilepas di Kanada oleh sang
ayah. Tak pernah dijenguk, tak pernah dimintai kabar. Begitulah. Ia menggelandang
di sana.
Dalam Maiyah kali ini pula, yang kental dengan tema
Pemilu. Yah, kalau menurut Cak Nun, anggap saja pembicaraan soal pemilu ini
adalah sedekah buat Indonesia. Soalnya kita amat cinta sama Indonesia.
Soal Membaca
Kita mesti pandai membaca, dalam sense yang luas. Membaca
dalam kerangka lain. Cak Nun memberikan ilmu tentang ‘cara’ membaca kira-kira
demikiran. Ada beberapa prinsip yang mesti dipegang. Pertama, surat Al Alaq
1-5. Kedua, pengetahuan tentang jenis yakin. Ketiga, tentang kesenangan dan
ketidaksenangan subjektif.
Dalam membaca, apapun itu baik kata maupun dunia, pertama
kali adalah ‘bacalah dengan nama Robb mu yang menciptakanmu’. Membaca mesti
dengan kerendahan hati, meminta asuhan dari Gusti Allah. Asuhan ini, artinya
dengan bimbingan, dengan pertolongan, dengan diiringi oleh Allah. Dus, membaca
itu hubungan dialektis antara manusia dan Tuhan.
Setelah itu, orang pun baiknya tahun jenis-jenis yakin
dan tingkatannya. Tingkat paling rendah, udzunul yaqin, keyakinan yang didapat
hanya karena pendengaran. Sumber ilmunya, baru dari dari kata ini dan kata itu.
Kedua, ilmul yaqin. Ketiga, haqqul yaqin. Saya lupa soal elaborasi dari
keduanya. Kalau boleh agak ngawur dengan menebak arti dari kedua kata tersebut,
ilmul yaqin adalah yakin yang didapat dari metode keilmuan. Teoritik, ia datang
dari metode yang sahih, namun baru dalam level konsep. Yang haqqul yaqin, itu
yakin yang datang melalui postulat, rumusan, aksiom atau apalah, yang jelas
benarnya. Keyakinan atas suatu hal didasarkan pada kesesuian hal yang kita
alami dengan postulat yang ada. Yang teratas, adalah ainul yakin. Keyakinan karena
pengalaman, empiris, mengalami sendiri, merasakan sendiri.
Membaca yang benar dan tahu jenis-jenis pengantar menuju
keyakinan ini saja belum cukup. Orang juga baiknya tahu soal keterlibatan emosi
dalam pertimbangan manusia. Mungkin, apa yang rasanya enak itu buruk buat kita,
dan mungkin saja apa yang terasa tidak enak itu baik buat kita. Dengan mempertimbangkan
kemungkinan tersebut, kita jadi tidak terjebak oleh keputusan spontan yang
hanya berdasarkan pertimbangan like dan dislike, suka dan tidak suka semata.
Mendidik Anak
Anak mesti diberi kunci-kunci, kalau menurut Cak Nun. Setelah
diberi kunci, isi apapun yang ia hadapi, akan siap ditangani. Ada empat kunci
yakni aqidah, akhlaq, kejujuran intelektual, dan mental.
Soal aqidah, ya soal keyakinan tentang Tuhan. Mungkin, ya
ini soal bagaimana Gusti Allah selalu menjadi pihak yang diminta pertimbangan
dalam hal apapun. La Ilaha IllaLlah. Kedua, soal akhlaq. Ini pun jelas, soal
bagaimana kelakuan terpuji ditanamkan, lebih-lebih dalam relasi dengan orang
lain. Lalu soal kejujuran intelektual. Seorang anak mesti diajari jujur, jujur
dalam pikirannya dan lakunya. Jangan sampai anak berbohong. Rada keras dalam
didikan tak jadi soal, untuk menanamkan sikap ini. Yang terakhir, soal
mental. Ya itu, anak kalau nangis ya
jangan langsung digendong. Rodo tegel sitik lah.
Intinya, kalau menurut Noe, kalau mendidikkan anak soal
nilai itu ya orangtua mesti jadi nilai itu sendiri. Ia banyak belajar dari Cak
Nun soal nilai ini. Misalnya, sewaktu kecil, ia pernah diajak naik becak menuju
pasar oleh Cak Nun. Pas tanjakan, Cak Nun turun, dan membantu tukang becak
mendorong becaknya. Sabrang nanya, ‘Kenapa kok dibantu? Kan itu udah tugasnya?’
Cak Nun njawab, ‘Ya kan berat, kasihan’. Momen itu, bagi Noe sangat membekas. Itu
peristiwa yang mengingatkannya untuk bersedia membantu oranglain. Ajaran itu
bukan dari ujaran, tapi dari laku sang ayah yang ia amati sendiri.
Media dan Sihirnya
Ya memang masanya Pemilu 2014. Ada beberapa hal yang
disinggung. Salahsatunya soal, meminjam kata pak Musthofa W. Hasyim, sihir. Salahsatunya
dari media massa. Kalau mau menangkal sihir ini, mesti belajar teori sihir,
menurutnya.
Pak Mus lalu bercerita tentang kisah Nabi Musa melawan
para tukang sihir Fir’aun. Saat tukang sihir itu melepaskan tali di tanah
lapang, dan jadi ular, apa yang sebetulnya terjadi? ‘Pikiran atau talinya yang
jadi ular?’ tanya ketua NahdlatulMuhammadiyin ini. Kalau yang berubah adalah
pikiran, ya kita mesti melawannya dengan pikiran yang lebih luas, lebih besar. Itu
yang dilakukan Nabi Musa saat melemparkan tongkatnya. Tongkat itu jadi lebih
besar, sangat besar sehingga dapat menelan semua ular-ular kecil dari tali itu.
Yang dapat diambil dari cerita itu, ya kalau mau melawan sihir media, kita
mesti punya kerangka pikir dan pijakan yang lebih luas dan mendalam mengenai
suatu isu. Contoh simpel misalnya, dengan tidak hanya mengonsumsi satu media
saja, tetapi beruasaha melakukan komparasi agar lebih berimbang dalam
pengambilan informasi.
Bicara soal informasi, Cak Nun juga mengingatkan, ini
abad Informasi. Artinya, bukannya kita yang kebanjiran informasi lalu terlena
dengan banyaknya informasi itu. Hanya bisa mengonsumsi informasi. Datangnya abad
Informasi adalah ajakan buat kita untuk sigap dan siap menyampaikan informasi
alih-alih hanya menerima saja.
Begitulah kira-kira yang saya tangkap. Tentu seperti yang
saya bilang di awal, momen berjam-jam mendengar dan memikirkan begitu banyak
lontaran pemikiran, tentu banyak hal yang luput dari ingatan dan pemahaman. Yang
saya tulis, adalah yang teringat dan terpahami sebatas jangkauan. Jikalau ada
yang luput dan keliru, silahkan sidang pembaca membenahi.
waLlahu a’lam bisshowab
Krapyak, menjelang subuh,
18 Maret 2014

jos mas.
ReplyDeleteMakasih,Mas. :) Ikut maiyahan juga kemaren?
ReplyDelete